Hening Natal Bersama Kawan GKI Yasmin

Posted: December 25, 2011 in Solidaritas

25 Desember 2011

Hari Natal.
Hari yang selalu menjadi kegembiraan bagi umat Kristiani, memperingati kelahiran Yesus.
Seorang kawan saya, setiap memasuki tanggal 1 Desember, ia akan mengeluarkan dan memasang pernak-pernik untuk menyambut Hari Natal.
Pohon Natal yang penuh kelap-kelip lampu penerang.

Beberapa hari menjelang Natal, kita pun bisa melihat bagaimana gereja-gereja sibuk menghias gedungnya. Dan pemerintah, pada satu hari menjelang Natal akan sibuk pidato memberi jaminan keamanan pada umat Kristiani untuk menjalankan ibadahnya.

Namun dibalik keriuhan dan keriangan tersebut, di sebuah tempat yang tak jauh dari kediaman Presiden Republik Indonesia, ada ratusan umat Kristiani yang merayakan natal dalam hening dan kesunyian semenjak tahun 2010. Polda Bogor, yang selama ini selalu menghalangi mereka beribadah dari tekanan FPI, juga sudah mengeluarkan seruan untuk tidak memperbolehkan mereka beribadah di gerejanya pada hari Natal tahun ini.

Pada Desember 2010 MA telah mengeluarkan keputusan, yang menguatkan keputusan PTUN Bandung dan PT TUN Jakarta yang memerintahkan Dinas Tata Kota dan Pertamanan Kota Bogor mencabut surat Pembekuan Izin Mendirikan Bangunan GKI Yasmin. Tapi, putusan Mahkamah tak kunjung dilaksanakan Pemerintah Kota Bogor.

Kisruh GKI Yasmin dalam hal perizinan sudah memasuki tahun ketiga. Pemerintah Kota Bogor tetap menolak IMB bangunan gereja tersebut walaupun IMB sudah berkekuatan hukum tetap dengan keluarnya putusan MA tersebut.

Pagi pukul 6.
Jalan raya sepi dan lengang. Meskipun tidak ikut merayakan natal, namun saya berketetapan untuk bersolidaritas dan ikut bantu menjaga ibadah natal yang diselenggarakan oleh umat GKI Yasmin Bogor.

Mobil saya melaju lebih dari 100 KM/jam, karena beberapa kawan sudah menunggu di KM19. Akhirnya kami bertemu di pintu keluar tol sentul.

Kami tiba kira-kira pukul 7.30. Jalan utama menuju GKI Yasmin sudah di blokir oleh sepasukan polisi. Suasana agak sepi dan sedikit mencekam. Kami memutuskan untuk parkir agak jauh dari lokasi dan kemudian berjalan menuju gedung gereja GKI Yasmin.

Meskipun kami berjalan kaki, ternyata kami tak diijinkan masuk.
“Kami mau lewat sini pak!” ujarku kepada Polisi.
“tak boleh” kata polisi
“kenapa tak boleh?”
“ya, pokoknya ndak boleh, harus minta ijin dulu sama komandan”
“kalau begitu, mana komandan bapak” saya masih sopan bertanya
“Ada disana”
“Kenapa sih kami tak boleh lewat? Ini khan jalan umum” mulai agak kencang nada suaraku.

tapi salah seorang kawan, aku ingat itu Awi dan mas Jun, tarik tanganku. “Sudah tunggal, kita lewat jalan lain saja”

Singkat cerita, kami bisa mendekati GKI Yasmin setelah melewati jalanan rumah penduduk yang curam dan berliku. Masuk ke jalan sempit dan melewati pembuangan sampah.

Setibanya di lokasi, kami tidak melihat satu jemaat GKI Yasmin. Kami justru melihat beberapa truk Polisi dan segerombolan preman pake jubah yang teriak-teriak tak jelas. Mirip orasi, tapi jauh lebih mirip dengan tukang jual obat.

Segera kami berkoordinasi dengan beberapa kawan yang sudah tiba sebelumnya. Menurut info yang kami dapatkan, jemaat GKI Yasmin beribadah di salah satu rumah jemaatnya. Ada dalam perumahan GKI Yasmin.

Kami berjalan cukup jauh sampai akhirnya menemukan lokasi rumah salah seorang jemaat GKI yang dijadikan lokasi ibadah. Agak gampang menemukannya, karena depan rumah itulah satu-satunya yang ada banyak banser di depannya.

Aku masuk ke dalam, sekitar seratusan jemaat ada didalam, khusuk beribadah. Dari wajah para jemaat saya bisa melihat rasa keprihatinan dan kesedihan yang mendalam.

Saat ibadah hendak berakhir, Glenn Fredly menyanyikan lagu Pancasila, Inayah Wahid dan ibu Lili Wahid pun memberikan salam solidaritas singkat.

Tidak sedikit para jemaat GKI Yasmin yang menangis saat glen, inayah dan lili wahid memberikan solidaritas.

Suasananya mengharukan. Beberpa kali saya mengusap tetes air mata di pinggir mata.

Oh alam semesta, berikanlah kawan-kawanku ini keberanian dan keteguhan untuk terus memperjuangkan hak-nya.

Selamat hari Natal kawan-kawanku! Ingatlah, dibalik kegembiraanmu, ada ratusan orang yang hidup merayakan Natal dengan penuh kesedihan.

Sebagai penutup, saat saya pulang, seorang Banser meminta untuk berfoto dengan saya. Langsung saja saya tarik helga. 🙂
Mungkin dikira selebritis hahahah

Advertisements
Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s